Breaking News

5 Kondisi yang Bisa Menyebabkan Sexless Marriage, Apa Saja?

Wartaonline.net,-- Sexless marriage bisa saja dialami pasangan suami istri (pasutri) terutama yang sudah menikah dalam waktu lama. Sexless marriage terjadi ketika pasutri menganggap hubungan seks tak lagi penting dalam hubungan mereka.

Psikolog bersertifikat Laurie Mintz, mengatakan 5-20 persen pasangan suami istri hanya berhubungan intim sepuluh kali setahun, bahkan kurang. Kondisi inilah yang oleh para psikolog disebut sexless marriage.

"Sexless marriage terbagi menjadi dua tipe. Pertama, kedua pihak tetap merasa intim dan merasa tidak ada masalah meski jarang bercinta. Kedua, banyak dialami pasutri di mana salah satu pihak merasa khawatir dengan kehidupan rumah tangganya sementara pasangannya tidak," tutur Mintz.

Patut diingat sexless marriage bisa disebabkan kondisi si pasutri sendiri. Apa saja kondisi tersebut? Berikut pemaparannya :

1. Anorgasmia

Terapis seks Dr Dawn Michael mengatakan anorgasmia merupakan kondisi di mana pasutri sesekali atau berulang mengalami kesulitan mencapai orgasme. Padahal, rangsangan seksual yang dilakukan sudah maksimal. Kondisi ini kadang menimbulkan stres tersendiri bagi suami atau istri.

Perubahan gaya hidup bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi ini. Mengerti tubuh Anda lebih baik, menambah stimulai seksual, cognitive behavior therapy (CBT), dan menjalani terapi seks. Sementara, pengobatan bisa dilakukan dengan menangani kondisi medis yang dialami, terapi estrogen untuk wanita yang sudah menopause, dan terapi testosteron.

Sementara pada pria, terapi yang diberikan bisa obat-obatan untuk mengatasi kondisi medisnya dan terapi psikologi. Seperti latihan komunikasi dan relaksasi sehingga pria bisa lebih menikmati aktivitas seksualnya, demikian dikutip dari Sexual Health Australia.

2. Hypoactive sexual desire disorders

"Hypoactive sexual desire disorders adalah kurangnya gairah bercinta baik sesekali atau berulang. Ini tergantung situasi. Bentuknya bisa berupa tidak adanya fantasi seksual dan dapat dipengaruhi kondisi situasional, misalnya sedang berkelahi dengan pasangan," terang Dawn.

Hampir sama dengan anorgasmia, Hypoactive sexual desire disorders bisa diatasi dengan menilik kondisi medis yang memang menyertainya kemudian mengobatinya. Penggunaan antidepresan juga bisa jadi pilihan jika penyebab kondisi ini adalah kurangnya gairah karena depresi.

Khusus pada wanita yang sudah menopause, terapi hormon dapat dilakukan. Sedangkan, terapi seks bisa dilakukan baik oleh pria maupun wanita untuk mengatasi kondisi ini.

3. Sexual aversion disorder

Ini adalah keadaan di mana keengganan seseorang sehingga dia menghindari kontak seksual yang aktif, termasuk yang melibatkan kontak genital. Kondisi ini dikatakan Dawn bisa terjadi ketika individu mengalami kecemasan, ketakutan, atau perasaan jijik.

Dikutip dari Good Therapy, untuk mengatasi kondisi ini, coba lakukan kontak seksual yang membuat Anda nyaman misalnya saling peluk, cium, dan berpegangan tangan. Makin Anda nyaman dengan aktivitas itu, makin rendah keenggangan untuk bercinta yang dimiliki.

Kemudian, lakukan pengendalian diri dan teknik rileksasi untuk membuat hati lebih tenang. Jika diperlukan, konseling dengan terapis seks juga bisa dilakukan.

4. Pelvic pain disorder

Pelvic pain disorder merupakan sindrom dengan gejala bervariasi. Termasuk pula rasa sakit dan disfungsi saat berhubungan intim, bahkan ketika buang air kecil dan buang air besar.

Dilansir Web MD, C. Paul Perry, MD, pendiri International Pelvic Pain Society mengatakan pelvic pain disorder bisa diatasi dengan obat antiepileptik. Bahkan, mengatasi depresi pada pasien chronic pelvic pain juga penting. Sebab, antidepresan bisa memperbaiki toleransi dan tingkat nyeri pasien chronic pelvic pain.

Tetap aktif dan mengatur pola makan, terutama menghindari asupan yang bisa memicu alergi juga dapat dilakukan.

5. Dyspareunia

dr Jessica Ivany MBBS Dip Paeds dari Cooper St Clinic, Sydney, mengatakan nyeri saat bercinta atau dyspareunia bisa diatasi dengan mengobati kondisi medis yang menyertai. Misalnya saja infeksi, penyakit menular seksual, atau alergi kondom.

Pada pria, penggunaan KB spiral oleh istri yang dinilai terlalu panjang juga bisa membuat bercinta menyakitkan. Nah, pada wanita yang sudah menopause, kurangnya lubrikasi bisa memicu masalah ini sehingga penggunaan lubrikan disarankan.

Sementara untuk terapi, bisa dilakukan Desensitization therapy khusus (latihan agar vagina lebih rileks) untuk wanita. Kemudian konseling atau terapi seks bisa dilakukan untuk pria dan wanita.***