‘Tunggal Putri Indonesia Ada Perkembangan tapi Belum Signifikan’

0

 'Tunggal Putri Indonesia Ada Perkembangan tapi Belum Signifikan'

Jakarta – Pelatih tunggal putri Minarti Timur menyebut ada atletnya sudah mengalami perkembangan walaupun belum signifikan. Masih butuh waktu dan proses lebih lanjut agar bisa disejajarkan dengan sektor lain.

Sejak didapuk sebagai pelatih tunggal putri, Minarti sadar beban tugas yang ditanggungnya cukup besar. Selain minim regenerasi, tunggal putri belakangan juga sulit menyumbang gelar.

Secara peringkat, saat ini Minarti secara khusus memiliki Fitriani (32), Gregoria Mariska (37), Hanna Ramadini (41), Dinar Dyah (44), dan Ruselli Hartawan (57).

Pada prosesnya, para tunggal putri Indonesia itu mampu unjuk kemampuan di beberapa turnamen. Seperti Gregoria Mariska yang sukses meraih gelar juara dunia junior 2017, hingga Dinar Dyah yang baru-baru ini berhasil menjuarai international challenge di Vietnam.

Selain itu Fitriani pun sukses mengalahkan lawan-lawan yang di atasnya. Sebagai contoh saat tunggal putri peringkat ke-32 itu menumbangkan tunggal putri nomor satu China, Chen Yufei, di Kejuraan Beregu Asia 2018 di Malaysia bulan Februari lalu.

“Sebenarnya kalau ada perubahan pasti ada. Jika tidak, mana mungkin anak-anak bisa juara, iya dong. Biarpun itu level internasional challenge atau turnamen apa,” kata Minarti kepada detikSport, Senin (16/4/2018).

Minarti mengakui bahwa perkembangan dan kemajuan para tunggal putri itu belumlah terlihat signifikan. Ia menegaskan bahwa semua pada dasarnya butuh proses.

“Tidak bisa 180 derajat langsung jadi benar semua. Ya, kami semua belajar, kami (pelatih) memberi masukan. Dan mereka harus bisa berubah. Ada perubahan meski tidak banyak, tidak sesignifikan yang diharapkan, tapi kan ada,” katanya.

“Ya kita berusaha dulu mati-matian dalam segala segi, baik fisik, teknik, mental, semuanya benahi. Jika mereka kurang berani di lapangan, kami beri contoh. Seperti saat P.V Sindhu (India) melawan Nozomi Okuhara (Jepang). Ibaratnya mati-matian di lapangan, kenapa kalian tidak bisa? nah, itu harus muncul dari mereka sendiri. Atlet harus punya keinginan ke sana. Apalagi sebentar lagi ada Uber Cup, tidak membawa nama perorangan lagi tapi Indonesia. Masa tak mau? jadi harus belajar dari sana.”

“Hanya memang saat ini yang kelihatan lumayan perubahannya adalah Dinar. Sebab, biasanya Dinar paling sulit ketika bertanding di luar, sementara di dalam negeri bagus, latihan. Tapi terakhir dia bisa menunjukkan dengan menjadi juara di Vietnam. Itu pun lawannya bukan sembarangan, mereka harus mengalahkan pesaingnya jika ingin naik level. Dan dia bisa membuktikan. Mudah-mudahan di dua turnamen terakhir sebelum Uber Cup dia bisa menunjukkan lagi karena persiapannya bagus,” tuturnya.

Minarti juga membahas nama Gregoria Mariska. Menurutnya, teknik saja tak cukup karena Gregoria masih harus bekerja lebih keras agar semakin disiplin guna meningkatkan fisik dan mental.

“Gregoria kan dari junior dan memang junior dia bisa karena dengan pukulan cukup bagus dan teknik lumayan dia bisa menekan. Tetapi di level senior pukulan bagus saja tidak cukup. Dia harus punya fisik dan mental yang kuat, harus lebih sabar. Soalnya yang senior ditekan pun tidak mati justru kembalinya ke dia sendiri,” katanya.

“Nah, itu dia harus latihan lebih keras. tak bisa dua kali lipat tapi berlipat-lipat. Pokoknya lebih dari yang lain. Jadi semua tergantung anak-anak itu. Mereka harus disiplin jaga diri, makan, dan tidurnya,” ucap Minarti.


(mcy/krs)

Source link

Leave A Reply

Your email address will not be published.